Selasa, 24 Juli 2018

Dua Jam Mendebarkan dalam Gua Naga Kuning di Zhangjiajie, Tiongkok


Dua Jam Mendebarkan dalam Gua Naga Kuning di Zhangjiajie, Tiongkok

Kalau sudah ke Zhangjiajie, Tiongkok, jangan lupa ke Gua Naga Kuning ('Yellow Dragon Cave'), ini termasuk juga warisan dunia ('world heritage') karena terjadi secara alami jutaan tahun dimana terdapat gua yang panjang dibawah beberapa gunung dan bisa dua jam perjalanan dari pintu masuk sampai pintu keluar. Yang pasti, pemandangan di dalam gua ini tidak ada urusannya dengan kabut, selalu jelas. Tanggal 6 Januari 2017 ini pun kami sekeluarga memberanikan diri 'nge-gym' keringat-keringatan jalan di tempat wisata yang kalau musim panas pengunjungnya bisa ribuan orang sehari.
Di dalam gua banyak stalaktit dan stalakmit (dokumentasi pribadi)
Di dalam gua banyak stalaktit dan stalakmit (dokumentasi pribadi)
Konon kabarnya, memang ada naga kuning yang tinggal di gua ini, atau karena bebatuannya saat belum dikasih lampu memang memendarkan cahaya kuning, entahlah, yang pasti tempat ini benar-benar dibuat sedemikian mengagumkan dengan tata cahaya bak taman kota waktu malam, warna-warni dengan bebatuan stalaktit dan stalakmit yang indah. Lantainya agak licin karena dari keramik dan jalan naik turunnya ada banyak anak tangga yang menjalaninya memerlukan stamina yang cukup. Kalau membawa anak-anak dan orang tua harus sering-sering istirahat, kalau ketinggalan pemandu wisata yang satu, kita dapat ikut rombongan pemandu wisata gua berikutnya. Jangan berani-berani mencoba berkelana sendiri di gua ini tanpa pemandu, bisa-bisa tersesat berjam-jam bahkan berhari-hari.
Dalam perahu di dalam gua (dokumentasi pribadi)
Dalam perahu di dalam gua (dokumentasi pribadi)
Uniknya di dalam gua ini ada banyak perahu yang dapat memuat 12-15 orang, menyusuri sungai bawah tanah, kembali menikmati keindahan bebatuan mineral bentukan alam yang luar biasa. Betapa sekali lagi kita harus kagumi keseriusan pemerintahan Tiongkok membenahi infrastruktur pariwisatanya, memberi lampu warna-warni untuk gua yang panjang perjalanannya kurang lebih 5 kilometer ini, membuat tangga, mengadakan perahu, membersihkan bebatuan yang berbahaya untuk jatuh menimpa wisatawan dan sebagainya konon berharga trilyunan jika dirupiahkan. Itu tidak gratis, wisatawan yang masuk harus membayar 80 yuan untuk dewasa dan 60 yuan untuk anak-anak. Dana sebesar itu dimungkinkan, karena Tiongkok memang tidak perlu menghabiskan banyak 'energi' untuk kegaduhan politik, pilkada, demonstrasi dan lain-lain, karena partainya hanya satu dan kalau ada yang macam-macam mau protes keras atau menggalang massa, pasti langsung 'hilang'. Gaduh-gaduh sedikit, sebenarnya tidak apa-apa, ya, enggak?
Wow, 'amazing' (dokumentasi pribadi)
Wow, 'amazing' (dokumentasi pribadi)
Bagi saya, wisata yang memuaskan itu harus melihat reaksi istri dan anak-anak, kalau mata mereka terbelalak dan selalu bergumam penuh kagum, berarti jalan-jalannya sukses, terutama si Lukas yang baru 5 tahun 10 bulan, kalau dia sanggup jalam 2 jam keliling gua dengan riang gembira dan tidak merengek-rengek minta gendong, berarti dia bahagia. Nah, apa yang paling membahagiakan papanya anak-anak ya itulah seharusnya.
Secara keseluruhan, wisata ke gua ini membuat capek luar biasa dan kalau pulang ke hotel harus pakai taksi dan pintar-pintar tawar menawar, kalau tidak bisa kena lebih 100 yuan. Untung kami dibantu teman satu rombongan dan dapat harga ke hotel 30 yuan. Sangkin capeknya, sepulang dari gua saya tertidur dari pukul 16.30 sampai 20.00 malam dan baru terbangun sesudah lapar.

Kecewa di Atas, Puas di Bawah Saat Wisata di Halleluyah Mountain, Tiongkok


Kecewa di Atas, Puas di Bawah Saat Wisata di Halleluyah Mountain, Tiongkok
Pukul 9 pagi waktu setempat, yang 1 jam lebih awal dari Indonesia, 5 Januari 2017, rombongan tur kami dalam 2 bus berangkat ke 'world heritage', Taman Nasional Tiongkok Zhangjiajie. Ini adalah wisata yang paling ramai di dunia saat ini, mungkin, karena 1 milyar orang Tiongkok mungkin setengahnya pernah kesini dan sejak terkenalnya film Avatar yang disutradarai oleh Steven Spielberg, taman ini tambah terkenal, seluruh dunia pun ingin datang kemari.
Apa 'jualan' taman nasional ini? Pada dasarnya hanya gunung, gunung-gunung disini bentuknya aneh-aneh dan tidak kerucut seperti biasa di daerah lain, tetapi mirip kue-kue tart yang disusun berjajar, seolah-olah dibuat manusia, padahal itu adalah batu-batu karang besar yang terbelah-belah atau terkikis air dengan proses 300-an juta tahun.
Pegunungan unik di Zhangziajie (dokumentaasi pribadi)
Pegunungan unik di Zhangziajie (dokumentaasi pribadi)
Sesampai di terminal bus yang khusus untuk wisatawan, kami dibawa kurang lebih 30 menit keatas, menuju 'Halleluyah Mountain' sebuah batu cadas raksasa yang sangkin besarnya disebut gunung. Kami lalu berhenti dahulu di sebuah tempat untuk foto-foto, sebelum naik elevator ke atas gunung yang namanya 'Bailong Elevator'. Seluruh peserta tur foto-foto dahulu, biar kelihatan kompak, padahal hanya kami berlima dan 4 orang Selandia Baru yang pesertanya tidak bisa bahasa mandarin. Boro-boro ngobrol, untungnya tur ini ada satu pemandu yang disediakan berbahasa Inggris dan dia berpesan, belajarlah bahasa mandarin, karena seperlima penduduk dunia adalah etnis China dan tersebar di semua negara, supaya tidak mudah tersesat dan dianggap saudara dimana-mana. Benar juga sih.
Seluruh tur foto bersama (dokumentasi pribadi)
Seluruh tur foto bersama (dokumentasi pribadi)
'Elevator' yang kami naiki ini cukup lama sekitar 2 menit, karena menaiki gunung yang diatas 500-an meter, sayangnya kabut hari itu sangat tebal, sehingga pemandangan indah seperti di film-film dokumentasi tidak terlihat, hanya sedikit gunung terdekat yang dapat direkam kamera.
zhangjiajie baylong elevator
zhangjiajie baylong elevator
zhangjiajie elevator turun
zhangjiajie elevator turun
Diatas gunung, kami berjalan 40 menit untuk melihat-lihat tempat-tempat yang istimewa, seharusnya gunungnya indah difoto dari atas, tetapi kabut tebal membuat kami hanya dapat berfoto di patung Avatar dan di monumen 'Halleluyah Mountain' saja. Sedikit kecewa, tetapi tetap bersemangat karena tumbuh-tumbuhan dan beberapa binatang seperti tupai dan monyet cukup banyak berkeliaran bebas yang menghibur.
Anak-anak kami yang harus capek ikut tur orang tuanya. Padahal wisata alam yang pakai jalan-jalan bak 'mencari jejaknya pramuka' seperti ini hanya cocok untuk remaja dan dewasa. Lagipula suhu diatas ini mendekati nol derajat, membuat telapak tangan kisut. Maafkan Papamu, anak-anakku.
Monumen avatar (dokumentasi pribadi)
Monumen avatar (dokumentasi pribadi)
Kabut yang tebal (dokumentasi pribadi)
Kabut yang tebal (dokumentasi pribadi)
Monyet jinak (dokumentasi pribadi)
Monyet jinak (dokumentasi pribadi)
Yang unik diatas gunung ini ada semacam tempat yang ada seperti peramalnya, dan ada kura-kura keramatnya yang katanya adalah kura-kura panjang umur. Yang mau didoakan si peramal, boleh, dengan cara tangan kanannya diputar-putarkan ke tempurung kura-kura beberapa kali, bayarannya tidak ditentukan serelanya saja.
Kura-kura panjang umur (dokumentasi pribadi)
Kura-kura panjang umur (dokumentasi pribadi)
Selesai makan siang, kami melanjutkan tur ke 'Park Canyon', ngarai di bawah pegunungan tersebut dan untungnya, tidak perlu jalan kaki lama, karena disediakan kereta api mini yang membawa ke sebuah tempat perhentian yang bagus untuk foto-foto namanya 'ten mile natural gallery'. Nah, untuk anak-anak naik kereta api mininya sendiri sudah membuat mereka bersemangat, pegunungannyanya sih mereka tampaknya tidak peduli. Jadi di bagian ini anak-anaklah yang sangat puas.
Antri kereta mini di 'Park Canyon' (dokumentasi pribadi)
Antri kereta mini di 'Park Canyon' (dokumentasi pribadi)
Memang sebenarnya waktu terbaik liburan ke tempat ini saat musim panas, bulan Juni-Juli, karena kemungkinan melihat pemandangan bagus dari atas 'Halleluyah Mountain' lebih besar. Tetapi tidak menjamin juga, karena kabut akan selalu ada setelah hujan dan saat musim dingin pun masih bisa melihat pemandangan bagus. Kerugiannya kalau musim panas, wisatawan yang datang sangat banyak, untuk naik 'baylong elevator' saja harus antri bisa 2-3 jam sangkin padatnya.
Nah, bagi teman-teman yang suka wisata alam yang banyak jalan dan berpeluang mendapatkan foto-foto pegunungan indah, bisa memikirkan kemari, mungkin ini mirip puncak dinginnya, tetapi gunung anehnya banyak mirip karang besar di Australia dan Amerika, tetapi cara mereka 'menjual' tempat wisata ini sangat patut diacungi jempol, karena kalau musim panas, wisatawan kesana bisa 2-3 jutaan dalam dua bulan. 

Hanya Tokoh Inilah Orang Indonesia yang Ada di Museum Lilin Madame Tussauds Hongkong


Hanya Tokoh Inilah Orang Indonesia yang Ada di Museum Lilin Madame Tussauds Hongkong
Berkunjung ke Hongkong kurang lengkap kalau tidak mengunjungi Museum Lilin Madame Tussauds yang ada di 'Peak Tower'. Perjalanan kesana dapat melalui dua cara, yaitu melalui kereta trem yang langsung naik dengan sudut 45 derajad atau berkelok-kelok dengan bus, saya dengan rombongan Tur 'Dr*am Tr*ps' bersama anak-istri naiknya dengan trem tetapi pulangnya dengan bus.
Museum ini berdiri sejak 2006, termasuk cabang pertama di Asia, cabang kedua di Shanghai, lalu ketiga Singapura, kurang lebih 100 tokoh ada disana, yang terkenal di dunia, di bidang politik, musik, olahraga atau keilmuan.
Yang membuat bangga adalah pahlawan nasional kita, bapak proklamator Bung Karno, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang ada di museum itu dan kalau memang benar patung lilinnya dibuat detail berdasarkan ukuran sebenarnya, maka terlihat Bung karno sedikit lebih tinggi dari saya dan sangat jauh gantengnya dari saya. Tokoh politik lainnya, antara lain Ratu Elisabeth II dan suami, Obama, Ghandi, nah Hitler di 'wikipedia' katanya ada di museum ini, malah tidak ada dan Bung Karno di 'wikipedia' tidak ada, malah ada. Jadi 'wikipedia' belum tentu 'up-date'.
Fredy Mercury (dok pribadi)
Fredy Mercury (dok pribadi)
Tokoh artis yang terkenal antara lain Freddi Mercury, Mickael Jackson, Marlyn Monroe, dan tentu saja bintang film Hongkong dari Bruce Lee sampai Doni Yen. Hebatnya ada 'spesial edition' bintang K-Pop ada di sebuah ruangan khusus lengkap dengan tempat game tari-tariannya.
Tiger wood cari lubang (dokumentasi pribadi)
Tiger wood cari lubang (dokumentasi pribadi)
Tokoh olah raga yang ada, antara lain: Muhammad Ali, David Beckham, pebasketnya malah Yao Ming dan tentu saja Tiger Woods yang kontroversial.
Wraarrrrr (dokumentasi pribadi)
Wraarrrrr (dokumentasi pribadi)
Tokoh ilmuan terkenal Einstein juga ada, selebihnya tokoh komik dan dongeng seperti Spiderman, Hulk, Sungokong, Siluman Ular Putih dan masih banyak lagi. Sayangnya oleh pemandu tur kami hanya diberi waktu 1 jam dan sebenarnya kurang puas foto 'selfie', 'welfie' dan 'theyfie'. Tetapi memang sungguh sebuah daya tarik wisata tersendiri kalau museum lilin seperti ini ada di Indonesia.


Nah, mudah-mudahan yang penasaran berfoto dengan patung lilin Bung Karno dengan kemiripan seperti saat baca proklamasi, ganteng banget, bisa suatu saat berfoto disini atau kalau cabangnya Madame Tussauds sudah ada di Palembang, ya datanglah ke Palembang. Tidak semua wisata bagus harus di Jawa,kan? Hehehehe.....

Sabtu, 23 Juni 2018

Indahnya Parade Cahaya Malam Hari di Disneyland Hongkong

Indahnya Parade Cahaya Malam Hari di Disneyland Hongkong

Wisata ke Hongkong, katanya belum lampias kalau tidak pergi ke 'Disneyland'. Sesampai di Hongkong 28 Juni siang, kami langsung ke hotel untuk 'check-in' dan setengah jam kemudian kesana. Untung sudah beli tiketnya via 'online' versi 'combo' untuk keluarga, lengkap dengan tiket makan siang untuk 2 orangtua dan anak-anak.
Sesampai disana, waktu sudah menunjukkan pukul 15-an sore, nah, dapat apa lagi ya? Karena buat-foto-foto dengan si Mickey Mouse, Mini Mouse, Gufi, Donald dan semua tokoh legendarisnya akan dibatasi sampai pukul 16.30 sore dan antrinya bikin pusing. Saya dan keluarga pun memutuskan untuk disana sampai malam saja, karena ternyata di malam hari ada dua acara puncak yaitu 'Disney Light Night Parade' jam 8 malam dan pesta kembang api jam 9 malam. Ini yang katanya banyak ditunggu-tunggu oleh pencinta tokoh komik Disney asal ada syaratnya: TIDAK HUJAN!
Menunggu acara itu, seperti biasa kami mengunjungi beberapa wahana yang menarik, seperti menonton film 3 dimensi 'Mickey's Philliars Magic' yang seperti hidup dengan kaca mata 3 dimensi, lengkap dengan percikan air ke badan kita kala ada adegan si tokoh kartun tercebur atau tersiram air. Ikut beberapa permainan seperti komedi putar dan banyak lainnya.
Semua bagus? Tidak juga, karena ada restoran yang bernama 'Tahitian' dengan menu yang cocok di perut orang Indonesia menolak kupon makan kami, karena ikut paket 'combo', padahal kalau yang datang bayar tunai mereka mau. Wah, perasaan saya pun di rumah sakit tidak pernah menolak pasien yang bayar pakai program khusus, mengapa disini ada yang menolak saya? Jadi mengerti rasanya dibeda-bedain.


Kami pun makan di restoran di 'Mystic Point' di nomor 35 yang katanya menyediakan menu Indonesia, ternyata saat dimakan paketnya menu India, hehehehe...Intinya, kalau kesini, sebaiknya datang ke 'Tahitian restorant' jangan terlalu sore atau jangan pakai paket ikutan makan. Tetapi memang disana tidak boleh bawa makan dan minum dari luar, kecuali tempat air putih ('tap water' ada disediakan di beberapa tempat), air mineral harganya disana 28 dollar Hongkong sebotol 300-an cc, kalau dirupiahkan 47.000 rupiah, makan 1 donat saja harganya 26 dollar Hongkong, sekitar 44.000 rupiah. Jadi bawalah galon air kalau semua keluarga tukang minum, mau beli air mineral 10-an botol, mana tahan.....
https://www.youtube.com/watch?v=6SYqZQ_79oQ

di kereta Disney (dokumentasi pribadi)

Mirip dengan yang ada di 'Universal Studio' Singapura, hampir semua film 'Disney' ada perwakilannya disini, namun wahananya memang lebih 'up to date' yang di Singapura, jadi kalau tidak benar-benar memuja film kartun dan komiknya, lebih enak ke Singapura saja. Kebetulan anak-anak saya fanatik suka tokoh Miki dan Donald, jadi berkeliling kereta memutari Disneyland sudah sangat membuat mereka bahagia. Entah 10 atau 15 tahun lagi mereka ada kesempatan kesini, atau 20 tahun kalau pakai uangnya sendiri.
Kembali lagi ke judul diatas, jujur saja, itu merupakan karnaval atau parade paling indah yang pernah saya lihat. Baik anak-anak yang suka tokohnya, atau saya dan istri yang mengagumi kecanggihan konsepnya, bagaimana semua penari dipakaikan baju berlampu dan tidak kena setrum, bagaimana itu bisa dilakukan setiap malam (kecuali hujan) dan memang konon kabarnya yang sanggup menunggui acara ini sampai malam tidak semua sanggup, tetapi masih ada juga anak bayi digendong ortu-ortunya khusus menanti acara ini.
Jadi, kalau ke Disneyland Hongkong, tunggulah acara ini pukul 8 malam dokumentasikanlah dan berdoalah tidak hujan. 

Jumat, 22 Juni 2018

Ketika Anak Balitaku Melihat Adegan Merak Kawin

Ketika Anak Balitaku Melihat Adegan Merak Kawin

"Nah, burung meraknya berkelahi Papa...."Kata Lukas anakku yang baru 4 tahun 9 bulan antara ketakutan dan senang, melihat adegan 'kawin' burung satu spesies tersebut.
"Itu namanya burung sedang kawin..."Jawabku tertawa, kebetulan 'banget' saat kami datang ke kebun binatang 'Caversham Wildlife' di kota Perth pagi tadi, ada satu merak jantan pameran ekornya untuk menarik perhatian merak betina dan kebetulan ada yang mau datang dan dikawini kontan saat itu juga.
Maafkanlah anakku, tidak sempat tutup matamu, terpaksalah kau lihat adegan itu.
Perjalanan ke Perth 10 Desember lalu kami lakukan tergoda iklan traveloka di Kompasiana beberapa bulan lalu yang dari Bali ke Perth naik Air Asia sekitar 800 ribuan, lalu istrikupun langsung ambil untuk kami berlima, tapi ternyata pulangnya yang mahal diatas 4 juta (kalau tidak salah).
Nah, terpaksa nanti pulangnya naik Garuda yang ternyata untuk 13 Desember pagi lebih murah.
Seperti biasa kami menginap di kamar 'back packeran' yang ada dapur untuk masak sendiri, mesin cuci ada dan 'relatif' murah meriah untuk ukuran Australia. Tetapi enaknya ada sebuah meja bilyar untuk memperkenalkan olah raga yang sebenarnya saya pun enggak bisa main.
Nah, kalau sudah ke Perth, jangan lupa ke 'tugu monasnya', 'Bell Tower' yang ada di 'Barrack Square'. Katanya, kalau tidak berfoto disana, ke Perth-nya harus ngulang lagi. Belum tuntas.
Selanjutnya, katanya harus ke Freemantle, kota 'Tanjung Priok-nya' Perth. Disanalah bahan-bahan tambang yang menjadi andalan kota Perth diekspor kemana-mana, dan salah satu pantainya berpasir putih yang indah sekali, namanya 'South Beach' atau pantai selatan, yang tidak ada nyi-nyi-annya, karena di Perth yang ada madam-madam aja.
Seperti biasa kami menginap di kamar 'back packeran' yang ada dapur untuk masak sendiri, mesin cuci ada dan 'relatif' murah meriah untuk ukuran Australia. Tetapi enaknya ada sebuah meja bilyar untuk memperkenalkan olah raga yang sebenarnya saya pun enggak bisa main.

Nah, kalau sudah ke Perth, jangan lupa ke 'tugu monasnya', 'Bell Tower' yang ada di 'Barrack Square'. Katanya, kalau tidak berfoto disana, ke Perth-nya harus ngulang lagi. Belum tuntas.
Selanjutnya, katanya harus ke Freemantle, kota 'Tanjung Priok-nya' Perth. Disanalah bahan-bahan tambang yang menjadi andalan kota Perth diekspor kemana-mana, dan salah satu pantainya berpasir putih yang indah sekali, namanya 'South Beach' atau pantai selatan, yang tidak ada nyi-nyi-annya, karena di Perth yang ada madam-madam aja.
Selanjutnya, karena jadwal hanya 3 hari di Perth, kami terakhir memberanikan diri ke kebun binatang tempat Lukas melihat merak tadi,yang lumayan jauh diluar kota Perth.
Kami naik kereta dari 'Perth Underground' memakai karcis 'family' untuk 2 dewasa dan 2 anak, Lukas yang balita gak dihitung. Harga tiketnya 12 dollar Australia, 10 sen. Itu tiket berlaku seharian kalau memakai kereta api, bis atau kapal feri 'Transperth'. Tiket ini hanya berlaku kalau 'weekend' dari jumat sore ke minggu malam.
Dari kereta, kami berhenti di kota kecil Bassendean, dilanjutkan naik bis nomor 955 di perhentian 'Lord Street entrance'.
Sampai di perhentian, kita minta jemput di depan melalui sebuah tombol yang ada telepon internalnya, lalu 5 menit kemudian 'bus shutle' menjemput kami.
Terakhir, 12 Desember sore, anak-anak dipuas-puasin main air di 'Water Labirinth' di Mall Myer Perth. Yang walaupun sudah mengaku diskon 60%, harga baju-bajunya di kisaran 600 ribuan rupiah ke atas.
Sebenarnya banyak lagi tempat wisata di Perth, namun apa daya, waktu juga yang membatasi, apalagi 13 Desember disempat-sempati deh ke Gandaria City buat Kompasianival. Siapa tahu bisa makan siang bareng sama kompasianer lain dan bisa memakai baju seragam Planet Kenthir satu kali lagi.
Baiklah, kalau mau ke Perth, dari bali hanya 3 jam, perginya bisa murah, tetapi pulangnya tetap siap-siap mahal.
Atau kalau berencana ke Perth dan tidak pulang jangka waktu lama, sambil cari kerja, carilah sekolah. Sekolah di Perth murah banget, tapi biaya hidupnya mahal.
Semoga bermanfaat!

Cuci Piringmu, Atau Denda 20 Dollar Australia!

Cuci Piringmu, Atau Denda 20 Dollar Australia!

Setelah tertunda 5 tahun, karena sesuatu dan lain hal, akhirnya kesampaian juga pergi ke Australia, tepatnya ke kota Sydney.
Perjalanan ke Sydney 21 Juni 2015 ini,kami sekeluarga via Kuala Lumpur, karena dari Palembang ke KL lanjut KL ke Sydney dengan menggunakan Air Asia harga tiketnya jauh lebih murah dibandingkan Palembang-Jakarta/Bali lanjut ke Sydney.
Ini juga karena istriku suka kutak-katik semua biro perjalanan 'on-line' dan 'blog' perjalanan wisatawan 'backpacker' yang berseliweran di dunia maya.

Di Sydney, kami menginap di Hostel Big, di jalan Elisabeth, yang merupakan pusat kota. Harga kamarnya lumayan terjangkau, mengingat kami harus memesan 'Family Room' buat 5 orang. 
Entah ancaman ini benar atau tidak, tetapi setiap penyewa kamar harus menjaminkan 'deposit' 20 dollar Australia, ini akan ditarik manajemen hotel kalau sang tamu tidak mau memberekan kamarnya sendiri, tidak mau mencuci piringnya sendiri kalau sudah makan atau memasak.
Alat dapur lengkap, kompor gas siap 24 jam, hanya kita diawasi oleh kamera CCTV kalau lalai mencuci piring.
'Wifi' hanya tersedia di 'lobby' hostel jadi jangan heran kalau sampai tengan malam, bahkan subuh banyak muka bule, oriental, india dan melayu main internet di 'lobby'.
Lukas anakku yang baru 4 tahun sempat terheran-heran melihat anak bule seumuran dia sudah ubanan.
Nah, kalau sudah ke Sydney, belum 'sah' kalau tidak foto-foto di depan 'Opera House', ini sama dengan tidak lengkap ke Palembang tanpa berfoto di jembatan Ampera atau ke Jakarta tanpa ada foto di Monas.
Beberapa teman yang dokter banyak yang iri dengan foto ini, karena mereka pernah ke Australia tetapi sendiri saat disponsori oleh lembaganya tugas belajar, namun yang bawa sepaket dengan anak istri susah. Tapi ber'backpacker' ria mereka takut.
Padahal Sydney mah aman saja, banyak pejalan kaki wanita lewat jam 18 malam ke atas bawa tas tangan yang talinya kecil tidak dibegal sama pencopet bermotor. Mungkin karena semua jalan ada kamera pengintai dan semua pengangguran sudah dikasih santunan, makanya kriminalitas jalanan minimal.
Kami hanya berwisata yang murah meriah, seperti foto di sekitar 'Opera House', ke pantai 'Bondi Beach' dan 'Manly Beach' atau ke kebun raya 'Sydney Botanical Garden' yang jadi tempat 'jogging' favorit penduduk sekitar.
Yang berbayar, paling ke 'Musium Power House' dan 'Contemporary Art Gallery' yang free atau bayarnya untuk keluarga dibawah 50 dollar Australia.
Tiga hari di Sydney tidak cukup, karena ada ratusan tujuan wisata disana yang sebulan juga belum bisa diselesaikan dengan tuntas.
Bahkan jembatan pelabuhanpun bisa dijadikan obyek wisata berbayar, kalau mau ikut manjat sampai ke ujung atasnya.
Pokoknya, kalau disiplin dan pintar survey harga, pasti selamat di Sydney, karena harga telur yang 5 dollar per 6 biji di mini market yang satu, bisa di mini market lain hanya 6 dollar per 12 biji.
Okey, yang mau 'backpackeran' ke Sydney, 10 jutaan mungkin bisa seminggu kalau sendirian, kalau sekeluarga mah ya kalikan aja, apalagi taksi pun untuk lebih 4 orang harus pakai yang jumbo.
Semoga bermanfaat!

Selasa, 09 September 2008

Antara manusia, mobil, dokter dan montir

Manusia bukan mobil!
Dokter bukan Montir!

Tapi ada kemiripan antara manusia dan mobil juga para juru perbaikannya. Manusia yang masih muda dan sehat ibarat mobil baru, tetap harus diservis, di-check-up walau tidak sakit/ mogok.
Manusia yang sudah sepuh dan mobil antik perawatannya harus hati-hati, dan onderdilnya sudah mulai banyak rusak, jika sudah dirawat/ masuk bengkel pasti biayanya besar.

Dokter dan montir mendengar suara/ merasakan getaran jantung/roda/mesin orang muda/mobil baru, pasti cepat mengetahui dimana sakit/ kerusakan mesinnya. Tapi kalau manusia sepuh/ mobil tua, harus lebih lama memeriksa dan biaya pemeriksaan besar/ harus turun mesin dulu baru didapat kesimpulan dan tindakan mengatasinya.

Keluarga pasien tua terkadang sudah mengerti obat/ gejala penyakit si pasien karena sudah lama terlibat dalam kondisi sakit kronisnya. Pemilik mobil tua/antik sebagian besar sudah tahu kerewelan mesin mobilnya. Baru jika keluhannya luar biasa dan tidak dapat teratasi cara biasa, mereka ke rumah sakit/bengkel.

Mirip, kan? Tapi mobil tak punya perasaan. Diservis di bengkel kampung atau bengkel modern dia tidak masalah, yang penting montirnya ahli. Manusia tertentu tambah sakit dibawa ke dokter/ tempat pengobatan yang baginya tidak sesuai seleranya. Manusia terkadang fanatik dokter tertentu dan tidak mau dijamah/diperiksa dokter lain, tapi mobil tak masalah siapa pun montirnya.

Dokter yang baik harus mengkondisikan satu manusia dengan satu keadaan yang unik, tidak dianggap sakit yang sama pada manusia yang berbeda, obat dan perlakuannya sama. Bahkan pada satu orang pun dengan penyakit yang sama, pada waktu yang berbeda, pendekatannya tidak harus sama. Montir dapat memperlakukan mobil satu merk dengan kerusakan yang sama dengan cara yang sama sesuai petunjuk modulnya.

Ada kemiripan, tapi tetap keduanya tidak sama. Namun yang bikin sulit takala dokter menganggap dirinya montirnya manusia, rumah sakit menganggap dirinya bengkel manusia dan pasien mengharapkan dokter bekerja pakai modul ala montir mobil.