Liburan anak sekolah tahun ini bersamaan dengan bulan Ramadhan dimana umat muslim seluruh dunia menunaikan ibadah puasa dan seperti biasa ibunya anak-anak sudah jauh-jauh hari memesan tiket pesawat promo dari maskapai penerbangan "budget" karena dia sudah pasti ikutan cuti bersama pegawai negeri sipil.
Saya sebenarnya di rumah sakit hanya libur pas tanggal merah saja, makanya harus meminta cuti 5 hari mengikuti pola cuti bersama istri dan liburan sekolah 3 juniorku.
Kemarin, 8 Juni 2018 saya sempat ke salah satu "mall" di Palembang yang penuh sesak oleh pembeli, karena kita tahu hampir semua karyawan baik itu negeri maupun swasta sudah dibayarkan THR (tunjangan hari rayanya) dan itu sepertinya mau dihabiskan semua dalam minggu-minggu terakhir menjelang hari lebaran.
Coba bandingkan dengan hari ini di "mall" teramai di Malaysia, di menara kembar Petronas, tanggal 9 Juni 2018 , sangat sepi, beberapa wisatawan yang berfoto-foto tampaknya dari negara berwajah oriental dan bule maupun India, wajah-wajah melayu sangat jarang. Umat muslim Malaysia yang sedang berpuasa juga tidak mengunjungi "mall" untuk berbelanja, sebab konon kabarnya "kewajiban" memberikan THR tidak berlaku disana, malah kalau ada hari raya Imlek, baru pengusahanya yang warga keturunan Tiongkok memberikan "angpau".
Biasanya di depan menara kembar ini selalu ada air mancur yang memancar dengan irama tertentu yang menarik, tetapi hari ini tidak ada sebutir air pun muncrat ke atas, ini penghematan karena pengunjungnya sepi atau memang sedang rusak mesin air mancurnya, saya belum investigasi sampai sejauh itu.
Video diatas, saya rekam 5 tahunan yang lalu saat "sowan" di tempat yang sama dengan air mancurnya dan ramainya "mall" menara kembar Petronas bulan Juni 2013.
Apakah aktifitas lain di Malaysia ikutan sepi? Kalau melihat "tumpek blek" manusia di LRT (light rail transit) dan di stasiun KLCC yang masih dominan wajah-wajah Melayu dengan wajah yang sepertinya sedang berpuasa, maka terlihat aktifitas sehari-hari masyarakat Malaysia hampir sama dengan di Indonesia, kecuali mereka tidak berbelanja "lebih banyak" di penghujung bulan Ramadhan karena memang budaya "THR" disana tidak ada atau tidak seperti di Indonesia.
Twin Tower Petronas 9 Juni 2018 (dok.pri)
Apalagi memang perekonomian Malaysia sedang lesu dengan hutang luar negerinya yang 3500 trilyunan rupiah padahal penduduknya hanya 30 jutaan orang, jadi setiap penduduk Malaysia punya hutang luar negeri masing-masing 167 juta rupiah. Bandingkan dengan Indonesia yang hutang luar negerinya 4000 trilyunan rupiah dan penduduknya 240-an juta, jadi 1 orang kita menanggung hutang 16,7 jutaan rupiah.
Melihat perbandingan ini, seharusnya masyarakat Indonesia masih bersyukur, tetapi kalau memilih bersungut-sungut juga "rapopo", enakan jaman siapa, toh?
Perjalanan liburan ke Bratislava, Slowakia 23-26 Juni 2017, selain menikmati pemandangan alam dan bangunan-bangunan yang indah, juga dapat mempelajari sejarah yang tak kalah menariknya.
Seperti tugu yang berdiri di belakang foto keluarga diatas, sekilas terlihat biasa, namun menyimpan kisah yang sangat memilukan dimana banyak warga Slowakia yang tidak puas dengan rezim komunis jama kekuasaan Uni Sovyet antara tahun 1945 dan akhir tahun 1980-an, berusaha melarikan diri melewati Sungai Danube yang hanya kedalaman beberapa meter dan lebarnya beberapa belas meter ke wilayah Austria di sebelahnya yang ikut blok Barat yang saat itu jauh lebih demokratis dan lebih baik perekonomiannya. Ada yang selamat, tetapi lebih banyak yang tertembak mati saat berjuang bersama kerabat atau keluarganya, karena rezim komunis saat itu sangat tidak mau rakyatnya membelot dan menyatakan pada dunia kebobrokan sistem pemerintahan mereka.
Walaupun Partai Komunis masih ada di Slowakia, namun saat ini merekapun harus ikut sistem demokrasi dan pemilihan umum di negeri indah ini. Slowakia secara resmi berpisah dengan Ceko di tahun 1993 dengan damai.
Di atas tugu tersebut terdapat sisa-sisa Kastil Davina, sebuah benteng penting yang menjadi pertahanan kerajaan Slav kuno dari Hungaria, Napoleon dan Austria. Benteng itu dihancurkan tentara Napoleon tahun 1600-an dan tidak dipugar lagi sampai saat ini, tetapi pemandangan dari sisa-sisa Kastil itu masih terlihat indah karena berada di atas perbukitan.
Kastil Davina Bratislava (dokumentasi pribadi)
Kastil davina dari atas terlihat Sungai Donau dan perbatasan Austria (dokumentasi pribadi)
Ada tiga istana di Bratislava, tetapi satu sudah sangat rusak, Davina yang walaupun rusak dibombardir Napoleon masih tetap bisa 'dijual', serta istana Bratislava di pusat kotanya yang masih utuh, karena sering dipugar walaupun sempat mengalami kerusakan di perang dunia kedua. Istana ini sekarang banyak dipakai untuk pertunjukan musik klasik dan festival budaya di Bratislava yang memang sedang gencar-gencarnya menjual wisatanya.
Kastil Raja Bratislava dari depan (dokumentasi pribadi)
Istana raja Bratislava taman belakang (dokumentasi pribadi)
Selain istana, Bratislava memperkenalkan wisata Sungai Danubenya yang melewati 3 negara, yaitu Austria, Hungaria dan Slowakia, kami pun makan siang dengan salah satu kapal pesiar disana dengan 1 jam perjalanan melewati 5 jembatan yang menghubungkan dua sisi kota Bratislava.
Makan siang di kapal pesiar (dokumentasi pribadi)
Terakhir, jangan lupa ke 'Old town' Bratislava, yang terkenal dengan gedung-gedung arstistiknya dan patung-patung yang terkenal uniknya. Untuk bebas jalan-jalan naik kendaraan apapun dan masuk ke tempat wisata manapun, dapatkan 'Bratislava card' di pusat informasi turis di kota tua ini. Harganya tergantung fasilitas apa yang ingin anda dapatkan selama 24 jam.
(dokumentasi pribadi)
Patung 'Man at Work' muncul di gorong-gorong (dokumentasi pribadi)
Berakhirnya perang dingin dan pecahnya Cekoslowakia menjadi dua negara merdeka Republik Ceko dan Republik Slowakia, membuat rekor tersendiri di dunia, yaitu adanya dua ibukota negara yang paling dekat di dunia: Bratislava dan Wina di Austria.
Wina menjadi tempat transit pulang-pergi kami ke Bratislava tanggal 23 Juni pagi dan 26 Juni siang, karena penerbangan dari manapun lebih murah ke Wina daripada ke Bratislava langsung. Maka daripada menunggu di bandara kelamaan, kami sempatkan berkoper dan ransel 5 buah keliling Wina. Wina juga terkenal dengan seni musiknya dan bangunan megahnya seperti terlihat di bawah ini.
Istana Raja Wina (dokumentasi pribadi)
Karskirche (dokumentasi pribadi)
Katedral Stephenplaz Wina, Austria (dokumentasi pribadi)
Akhirnya melancong ke Praha, ibukota Republik Ceko yang tadinya menjadi ibukota Cekoslowakia yang konon kabarnya salah satu kota tercantik di dunia. Ini bisa dimaklumi karena Praha bisa menjaga bangunan-bangunan lamanya tidak dihancurkan dan berdiri megah, mobil dan kendaraan umum tidak boleh masuk ke 'Oldtown', hanya boleh lewat kereta kuda. Pusat bisnis dibangun di daerah lain, jangan di kota tua.
Yang unik adalah banyaknya toko sepatu Bata di kota ini dan ternyata memang pabrik yang di Indonesia cabang dari yang ada di Ceko. Perusahaan ini berdiri di Praha tahun 1894 oleh dua bersaudara Thomas dan Antonin Bata, cabangnya di Indonesia tahun 1939.
Jangan lupa untuk berfoto di 'Astronomical Clock' yang berusia sudah ribuan tahuan, Gereja St. Nicholas, Kastil di praha dan jembatan Charles yang terkenal menghubungkan Sungai Vitava.
Astronomical clock lagi direnovasi (dokumentasi pribadi)
St. Nicholas Praha, kubah atas (dokumentasi pribadi)
Sungai Vitava dan jembatan Charles menjadi latar (dokumentasi pribadi)
Taman Kastil Praha (dokumentasi pribadi)
kastil praha (dokumentasi pribadi)
kapal pesiar di Sungai Vitava (dokumentasi pribadi)
Stasiun kereta praha (dokumentasi pribadi)
gedung opera praha (dokumentasi pribadi)
Praha dan Bratislava jauhnya 4 jam perjalanan dengan kereta api, walau lebih lama di jalan dan hanya 3 jam di Kota indah itu, tetapi rasanya tetap sangat berkesan. Suatu hari, mungkin 10 tahun lagi harus saya telusuri 2-3 hari khusus ke kota cantik ini.
Demikianlah laporan perjalanan di 3 ibukota negara di Eropa Tengah yang sangat erat hubungannya. Sayang, kami tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk ke Budapest, ibukota Hungaria yang hanya 2 jam dari Wina. Pokoknya, kalau sudah ke Wina, jangan hanya puas kunjungi satu kota, minimal 3 kota baru sebanding dengan lelahnya perjalanan.
Setelah 6 jam menunggu di Amman Yordania dan sekitar 4 jam terbang dari sana ke Paris, kami berlima tiba di Bandara Charles de Gaulle pukul 16.30 waktu setempat. Kebetulan kami menginap di hotel 'budget' F 1 di sekitaran bandara itu karena pukul 7 pagi harus terbang ke Wina, karena tur wisata yang kami ikuti adalah di sekitaran Eropa Timur yang terutama Slowakia, Bratislava.
Tetapi karena kalau ke Eropa tanpa ke menara Eiffel rasanya tidak lampias dan kebetulan tiket langsung Jakarta-Bratislava maupun Kuala Lupur Bratislava sangat mahal, maka terbang ke Paris dengan transit di Bangkok dan Aman, lalu lanjut dari Paris ke Wina dahulu, baru dari Wina naik bus ke Bratislava pun kami 'jabani'.
Mengisi batere telepon genggam sambil olahraga (dokumentasi pribadi)
Di Terminal 2 Charles de Gaulle, kalau kehabisan listrik 'handpone' dapat mengisinya gratis asal mau berolahraga. Ya, dapat dilihat di foto atas, betapa kreatifnya petugas bandara memaksa pengunjung berolahraga sepeda statis, tambah semangat 'digowes' maka mengisi 'HP'-nya tambah cepat
Hotel budget di Paris (dokumentasi pribadi)
Karena tidur hanya kurang 12 jam dan berlima harus dua kamar, kami menyewa hotel murah dekat bandara itu, tetapi karena sedang musim liburan, semurah-murahnya hotel masih juga kena di harga 1 jutaanrupiah juga sekamar yang katanya kalau tidak sedang liburan bisa di harga sepertiganya. Kamarnya kecil, tempat tidur bertingkat dan kamar mandinya diluar. Sedih? Enggak jugalah, harus merasakan juga berhotel 'budget' sesekali, kan?
Dari bandara ke hotel tersebut ada 'bus shuttle' dengan nama 'Silver' yang gratis, kalau naik taksi pasti mahal, sekitar 22 Euro untuk yang besar, karena kami berlima tidak boleh satu taksi kecil.
Pengungsi Syria (dokumentasi pribadi)
Sesudah mandi dan makan mi instan yang dibawa dari Indonesia (Palembang), pukul 19.30 yang masih serasa 3 siang kalau di Indonesia, kami memaksakan diri ke menara Eiffel, karena Paris itu harus kesana dan di perjalanan menumpang bus 350 (yang termurah menuju kota) kami melihat pemandangan di bawah jalan tol banyak pengungsi Syria yang membuat gubuk disana, mirip Jakarta saat masih banyak rumah kumuhnya (sekarang muncul lagi kayaknya).
Banyak pengungsi mengedarkan kotak minta bantuan ke pengendara di jalan yang beberapa orang ada yang tidak sungkan memberikan koinnya. Rasa kemanusiaan negeri ini patut diacungi jempol, walaupun ada beberapa kejadian terorisme dan kotanya menjadi agak kurang rapi, namun menyelamatkan nyawa ribuan pengungsi seperti ini membuat saya pribadi menaruh hormat pada negeri yang cenderung liberal ini.
Bus nomor 350 kami turun di perhentian Gare-du-nord, dimana kami menumpang bus 42 menuju taman Eiffel, naik bus ini terbilang murah, hanya seorang sekitar 2 euro, bandingkan kalau naik taksi besar (family) yang bisa 100 euro sekali jalan, sekitar 1,5 jutaan rupiah.
dokumentasi pribadi
Akhirnya pukul 22-an tibalah kami di menara Eiffel, si sutet raksasa. Kegembiraan anak-anak melihat menara itu dan kebetulan pula kami datang saat matahari mulai redup pukul itu di musim panas di Prancis, tepat lampu kelap-kelip menara Eiffel dimainkan selama 10-15 menit, membuat kepenatan selama seharian perjalanan terlampiaskan dengan bahagia.
Kota Paris memang indah dan walaupun agak kotor dan banyak tenda darurat serta jemuran para pengungsi di kolong-kolong jembatan, bagi saya membuatnya lebih indah secara kemanusiaan, kesolidaritasan dan kebersamaan. Kota ini rela sedikit tidak rapi demi sesamanya.
Kalau sudah ke Zhangjiajie, Tiongkok, jangan lupa ke Gua Naga Kuning ('Yellow Dragon Cave'), ini termasuk juga warisan dunia ('world heritage') karena terjadi secara alami jutaan tahun dimana terdapat gua yang panjang dibawah beberapa gunung dan bisa dua jam perjalanan dari pintu masuk sampai pintu keluar. Yang pasti, pemandangan di dalam gua ini tidak ada urusannya dengan kabut, selalu jelas. Tanggal 6 Januari 2017 ini pun kami sekeluarga memberanikan diri 'nge-gym' keringat-keringatan jalan di tempat wisata yang kalau musim panas pengunjungnya bisa ribuan orang sehari.
Di dalam gua banyak stalaktit dan stalakmit (dokumentasi pribadi)
Konon kabarnya, memang ada naga kuning yang tinggal di gua ini, atau karena bebatuannya saat belum dikasih lampu memang memendarkan cahaya kuning, entahlah, yang pasti tempat ini benar-benar dibuat sedemikian mengagumkan dengan tata cahaya bak taman kota waktu malam, warna-warni dengan bebatuan stalaktit dan stalakmit yang indah. Lantainya agak licin karena dari keramik dan jalan naik turunnya ada banyak anak tangga yang menjalaninya memerlukan stamina yang cukup. Kalau membawa anak-anak dan orang tua harus sering-sering istirahat, kalau ketinggalan pemandu wisata yang satu, kita dapat ikut rombongan pemandu wisata gua berikutnya. Jangan berani-berani mencoba berkelana sendiri di gua ini tanpa pemandu, bisa-bisa tersesat berjam-jam bahkan berhari-hari.
Dalam perahu di dalam gua (dokumentasi pribadi)
Uniknya di dalam gua ini ada banyak perahu yang dapat memuat 12-15 orang, menyusuri sungai bawah tanah, kembali menikmati keindahan bebatuan mineral bentukan alam yang luar biasa. Betapa sekali lagi kita harus kagumi keseriusan pemerintahan Tiongkok membenahi infrastruktur pariwisatanya, memberi lampu warna-warni untuk gua yang panjang perjalanannya kurang lebih 5 kilometer ini, membuat tangga, mengadakan perahu, membersihkan bebatuan yang berbahaya untuk jatuh menimpa wisatawan dan sebagainya konon berharga trilyunan jika dirupiahkan. Itu tidak gratis, wisatawan yang masuk harus membayar 80 yuan untuk dewasa dan 60 yuan untuk anak-anak. Dana sebesar itu dimungkinkan, karena Tiongkok memang tidak perlu menghabiskan banyak 'energi' untuk kegaduhan politik, pilkada, demonstrasi dan lain-lain, karena partainya hanya satu dan kalau ada yang macam-macam mau protes keras atau menggalang massa, pasti langsung 'hilang'. Gaduh-gaduh sedikit, sebenarnya tidak apa-apa, ya, enggak?
Wow, 'amazing' (dokumentasi pribadi)
Bagi saya, wisata yang memuaskan itu harus melihat reaksi istri dan anak-anak, kalau mata mereka terbelalak dan selalu bergumam penuh kagum, berarti jalan-jalannya sukses, terutama si Lukas yang baru 5 tahun 10 bulan, kalau dia sanggup jalam 2 jam keliling gua dengan riang gembira dan tidak merengek-rengek minta gendong, berarti dia bahagia. Nah, apa yang paling membahagiakan papanya anak-anak ya itulah seharusnya.
Secara keseluruhan, wisata ke gua ini membuat capek luar biasa dan kalau pulang ke hotel harus pakai taksi dan pintar-pintar tawar menawar, kalau tidak bisa kena lebih 100 yuan. Untung kami dibantu teman satu rombongan dan dapat harga ke hotel 30 yuan. Sangkin capeknya, sepulang dari gua saya tertidur dari pukul 16.30 sampai 20.00 malam dan baru terbangun sesudah lapar.
Pukul 9 pagi waktu setempat, yang 1 jam lebih awal dari Indonesia, 5 Januari 2017, rombongan tur kami dalam 2 bus berangkat ke 'world heritage', Taman Nasional Tiongkok Zhangjiajie. Ini adalah wisata yang paling ramai di dunia saat ini, mungkin, karena 1 milyar orang Tiongkok mungkin setengahnya pernah kesini dan sejak terkenalnya film Avatar yang disutradarai oleh Steven Spielberg, taman ini tambah terkenal, seluruh dunia pun ingin datang kemari.
Apa 'jualan' taman nasional ini? Pada dasarnya hanya gunung, gunung-gunung disini bentuknya aneh-aneh dan tidak kerucut seperti biasa di daerah lain, tetapi mirip kue-kue tart yang disusun berjajar, seolah-olah dibuat manusia, padahal itu adalah batu-batu karang besar yang terbelah-belah atau terkikis air dengan proses 300-an juta tahun.
Pegunungan unik di Zhangziajie (dokumentaasi pribadi)
Sesampai di terminal bus yang khusus untuk wisatawan, kami dibawa kurang lebih 30 menit keatas, menuju 'Halleluyah Mountain' sebuah batu cadas raksasa yang sangkin besarnya disebut gunung. Kami lalu berhenti dahulu di sebuah tempat untuk foto-foto, sebelum naik elevator ke atas gunung yang namanya 'Bailong Elevator'. Seluruh peserta tur foto-foto dahulu, biar kelihatan kompak, padahal hanya kami berlima dan 4 orang Selandia Baru yang pesertanya tidak bisa bahasa mandarin. Boro-boro ngobrol, untungnya tur ini ada satu pemandu yang disediakan berbahasa Inggris dan dia berpesan, belajarlah bahasa mandarin, karena seperlima penduduk dunia adalah etnis China dan tersebar di semua negara, supaya tidak mudah tersesat dan dianggap saudara dimana-mana. Benar juga sih.
Seluruh tur foto bersama (dokumentasi pribadi)
'Elevator' yang kami naiki ini cukup lama sekitar 2 menit, karena menaiki gunung yang diatas 500-an meter, sayangnya kabut hari itu sangat tebal, sehingga pemandangan indah seperti di film-film dokumentasi tidak terlihat, hanya sedikit gunung terdekat yang dapat direkam kamera.
zhangjiajie baylong elevator
zhangjiajie elevator turun
Diatas gunung, kami berjalan 40 menit untuk melihat-lihat tempat-tempat yang istimewa, seharusnya gunungnya indah difoto dari atas, tetapi kabut tebal membuat kami hanya dapat berfoto di patung Avatar dan di monumen 'Halleluyah Mountain' saja. Sedikit kecewa, tetapi tetap bersemangat karena tumbuh-tumbuhan dan beberapa binatang seperti tupai dan monyet cukup banyak berkeliaran bebas yang menghibur.
Anak-anak kami yang harus capek ikut tur orang tuanya. Padahal wisata alam yang pakai jalan-jalan bak 'mencari jejaknya pramuka' seperti ini hanya cocok untuk remaja dan dewasa. Lagipula suhu diatas ini mendekati nol derajat, membuat telapak tangan kisut. Maafkan Papamu, anak-anakku.
Monumen avatar (dokumentasi pribadi)
Kabut yang tebal (dokumentasi pribadi)
Monyet jinak (dokumentasi pribadi)
Yang unik diatas gunung ini ada semacam tempat yang ada seperti peramalnya, dan ada kura-kura keramatnya yang katanya adalah kura-kura panjang umur. Yang mau didoakan si peramal, boleh, dengan cara tangan kanannya diputar-putarkan ke tempurung kura-kura beberapa kali, bayarannya tidak ditentukan serelanya saja.
Kura-kura panjang umur (dokumentasi pribadi)
Selesai makan siang, kami melanjutkan tur ke 'Park Canyon', ngarai di bawah pegunungan tersebut dan untungnya, tidak perlu jalan kaki lama, karena disediakan kereta api mini yang membawa ke sebuah tempat perhentian yang bagus untuk foto-foto namanya 'ten mile natural gallery'. Nah, untuk anak-anak naik kereta api mininya sendiri sudah membuat mereka bersemangat, pegunungannyanya sih mereka tampaknya tidak peduli. Jadi di bagian ini anak-anaklah yang sangat puas.
Antri kereta mini di 'Park Canyon' (dokumentasi pribadi)
Memang sebenarnya waktu terbaik liburan ke tempat ini saat musim panas, bulan Juni-Juli, karena kemungkinan melihat pemandangan bagus dari atas 'Halleluyah Mountain' lebih besar. Tetapi tidak menjamin juga, karena kabut akan selalu ada setelah hujan dan saat musim dingin pun masih bisa melihat pemandangan bagus. Kerugiannya kalau musim panas, wisatawan yang datang sangat banyak, untuk naik 'baylong elevator' saja harus antri bisa 2-3 jam sangkin padatnya.
Nah, bagi teman-teman yang suka wisata alam yang banyak jalan dan berpeluang mendapatkan foto-foto pegunungan indah, bisa memikirkan kemari, mungkin ini mirip puncak dinginnya, tetapi gunung anehnya banyak mirip karang besar di Australia dan Amerika, tetapi cara mereka 'menjual' tempat wisata ini sangat patut diacungi jempol, karena kalau musim panas, wisatawan kesana bisa 2-3 jutaan dalam dua bulan.
Berkunjung ke Hongkong kurang lengkap kalau tidak mengunjungi Museum Lilin Madame Tussauds yang ada di 'Peak Tower'. Perjalanan kesana dapat melalui dua cara, yaitu melalui kereta trem yang langsung naik dengan sudut 45 derajad atau berkelok-kelok dengan bus, saya dengan rombongan Tur 'Dr*am Tr*ps' bersama anak-istri naiknya dengan trem tetapi pulangnya dengan bus.
Museum ini berdiri sejak 2006, termasuk cabang pertama di Asia, cabang kedua di Shanghai, lalu ketiga Singapura, kurang lebih 100 tokoh ada disana, yang terkenal di dunia, di bidang politik, musik, olahraga atau keilmuan.
Yang membuat bangga adalah pahlawan nasional kita, bapak proklamator Bung Karno, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang ada di museum itu dan kalau memang benar patung lilinnya dibuat detail berdasarkan ukuran sebenarnya, maka terlihat Bung karno sedikit lebih tinggi dari saya dan sangat jauh gantengnya dari saya. Tokoh politik lainnya, antara lain Ratu Elisabeth II dan suami, Obama, Ghandi, nah Hitler di 'wikipedia' katanya ada di museum ini, malah tidak ada dan Bung Karno di 'wikipedia' tidak ada, malah ada. Jadi 'wikipedia' belum tentu 'up-date'.
Fredy Mercury (dok pribadi)
Tokoh artis yang terkenal antara lain Freddi Mercury, Mickael Jackson, Marlyn Monroe, dan tentu saja bintang film Hongkong dari Bruce Lee sampai Doni Yen. Hebatnya ada 'spesial edition' bintang K-Pop ada di sebuah ruangan khusus lengkap dengan tempat game tari-tariannya.
Tiger wood cari lubang (dokumentasi pribadi)
Tokoh olah raga yang ada, antara lain: Muhammad Ali, David Beckham, pebasketnya malah Yao Ming dan tentu saja Tiger Woods yang kontroversial.
Wraarrrrr (dokumentasi pribadi)
Tokoh ilmuan terkenal Einstein juga ada, selebihnya tokoh komik dan dongeng seperti Spiderman, Hulk, Sungokong, Siluman Ular Putih dan masih banyak lagi. Sayangnya oleh pemandu tur kami hanya diberi waktu 1 jam dan sebenarnya kurang puas foto 'selfie', 'welfie' dan 'theyfie'. Tetapi memang sungguh sebuah daya tarik wisata tersendiri kalau museum lilin seperti ini ada di Indonesia.
Nah, mudah-mudahan yang penasaran berfoto dengan patung lilin Bung Karno dengan kemiripan seperti saat baca proklamasi, ganteng banget, bisa suatu saat berfoto disini atau kalau cabangnya Madame Tussauds sudah ada di Palembang, ya datanglah ke Palembang. Tidak semua wisata bagus harus di Jawa,kan? Hehehehe.....
Wisata ke Hongkong, katanya belum lampias kalau tidak pergi ke 'Disneyland'. Sesampai di Hongkong 28 Juni siang, kami langsung ke hotel untuk 'check-in' dan setengah jam kemudian kesana. Untung sudah beli tiketnya via 'online' versi 'combo' untuk keluarga, lengkap dengan tiket makan siang untuk 2 orangtua dan anak-anak.
Sesampai disana, waktu sudah menunjukkan pukul 15-an sore, nah, dapat apa lagi ya? Karena buat-foto-foto dengan si Mickey Mouse, Mini Mouse, Gufi, Donald dan semua tokoh legendarisnya akan dibatasi sampai pukul 16.30 sore dan antrinya bikin pusing. Saya dan keluarga pun memutuskan untuk disana sampai malam saja, karena ternyata di malam hari ada dua acara puncak yaitu 'Disney Light Night Parade' jam 8 malam dan pesta kembang api jam 9 malam. Ini yang katanya banyak ditunggu-tunggu oleh pencinta tokoh komik Disney asal ada syaratnya: TIDAK HUJAN!
Menunggu acara itu, seperti biasa kami mengunjungi beberapa wahana yang menarik, seperti menonton film 3 dimensi 'Mickey's Philliars Magic' yang seperti hidup dengan kaca mata 3 dimensi, lengkap dengan percikan air ke badan kita kala ada adegan si tokoh kartun tercebur atau tersiram air. Ikut beberapa permainan seperti komedi putar dan banyak lainnya.
Semua bagus? Tidak juga, karena ada restoran yang bernama 'Tahitian' dengan menu yang cocok di perut orang Indonesia menolak kupon makan kami, karena ikut paket 'combo', padahal kalau yang datang bayar tunai mereka mau. Wah, perasaan saya pun di rumah sakit tidak pernah menolak pasien yang bayar pakai program khusus, mengapa disini ada yang menolak saya? Jadi mengerti rasanya dibeda-bedain.
Kami pun makan di restoran di 'Mystic Point' di nomor 35 yang katanya menyediakan menu Indonesia, ternyata saat dimakan paketnya menu India, hehehehe...Intinya, kalau kesini, sebaiknya datang ke 'Tahitian restorant' jangan terlalu sore atau jangan pakai paket ikutan makan. Tetapi memang disana tidak boleh bawa makan dan minum dari luar, kecuali tempat air putih ('tap water' ada disediakan di beberapa tempat), air mineral harganya disana 28 dollar Hongkong sebotol 300-an cc, kalau dirupiahkan 47.000 rupiah, makan 1 donat saja harganya 26 dollar Hongkong, sekitar 44.000 rupiah. Jadi bawalah galon air kalau semua keluarga tukang minum, mau beli air mineral 10-an botol, mana tahan.....
Mirip dengan yang ada di 'Universal Studio' Singapura, hampir semua film 'Disney' ada perwakilannya disini, namun wahananya memang lebih 'up to date' yang di Singapura, jadi kalau tidak benar-benar memuja film kartun dan komiknya, lebih enak ke Singapura saja. Kebetulan anak-anak saya fanatik suka tokoh Miki dan Donald, jadi berkeliling kereta memutari Disneyland sudah sangat membuat mereka bahagia. Entah 10 atau 15 tahun lagi mereka ada kesempatan kesini, atau 20 tahun kalau pakai uangnya sendiri.
Kembali lagi ke judul diatas, jujur saja, itu merupakan karnaval atau parade paling indah yang pernah saya lihat. Baik anak-anak yang suka tokohnya, atau saya dan istri yang mengagumi kecanggihan konsepnya, bagaimana semua penari dipakaikan baju berlampu dan tidak kena setrum, bagaimana itu bisa dilakukan setiap malam (kecuali hujan) dan memang konon kabarnya yang sanggup menunggui acara ini sampai malam tidak semua sanggup, tetapi masih ada juga anak bayi digendong ortu-ortunya khusus menanti acara ini.
Jadi, kalau ke Disneyland Hongkong, tunggulah acara ini pukul 8 malam dokumentasikanlah dan berdoalah tidak hujan.